Tips Menerima Kritik dari Si Bos

Home / Artikel / SDM (Sumber Daya Manusia) / Tips Menerima Kritik dari Si Bos


woman-975339_300Bekerja tidak mungkin tanpa bersentuhan dengan bos. Dia akan mengajari kita, membimbing dan memberi masukan agar kita bekerja lebih baik. Namun di lain kesempatan si Bos bisa saja mengkritik atau memarahi. Lalu apa sikap Anda bila menerima yang terakhir?

Menurut BJ Gallagher, konsultan karier dan penulis ”It’s Never Too Late to Be What You Might Have Been”, sikap pertama yang seringkali dilakukan seorang karyawan bila menerima kritikan dari si Bos adalah melindungi diri. Seakan karyawan menunjukkan dirinya tidak bersalah, bahkan menyalahkan si Bos dan menunjukkan seberapa keras kerjanya.

Apakah sikap Anda seperti apa yang disinyalir oleh Gallagher di atas?

Kalau demikian, waktunya untuk berubah. Wajar memang ketika mendapat kritikan si Bos, Anda menjadi terluka. Tapi dengan mempertahankan diri, Anda terlihat tidak kooperatif. Ujungnya si Bos malah lebih marah lagi dan Anda tidak mendapatkan apa-apa.

Apa Anda ingin hubungan dengan si Bos memburuk? Tidak kan? Karena itu saat menerima kritik dari si Bos, cobalah menahan emosi.

Berikut langkah-langkah yang bisa Anda lakukan saat menerima kritik dari si Bos:

  1. Klarifikasi
    Mintalah si Bos memberi alasan yang lebih detil tentang kritikan pada Anda. Si Bos mungkin saja banyak menerima masukan atau informasi dari yang lain termasuk gosip. Dan si Bos percaya saja pada informasi tersebut dan tidak melakukan konfirmasi ke Anda. Karena itu dengan kepala dingin, mintalah alasannya dan contohnya.Bila si Bos mengatakan Anda sering datang terlambat, mintalah pada hari/tanggal berapa yang terlambat itu. Atau si Bos memiliki sikap negatif terhadap suatu tugas Anda, mintalah contoh spesifiknya.Bila si Bos tidak memberikan jawaban detil atau alasan yang masuk akal, Anda berarti sudah bekerja dengan baik. Karena itu jangan terlalu dimasukkan hati, kritikan dari si Bos. Namun tidak berarti Anda boleh mengacuhkan kritikan tersebut. Ini berarti selama ini ada yang salah terhadap arus informasi/komunikasi antara Anda dan si Bos. Juga adanya mispersepsi si Bos terhadap Anda. Anda harus memikirkan cara-cara untuk membalik situasi ini menjadi menguntungkan bagi Anda.
  2. Berbesar hati
    Cobalah berbesar hati menerima kritikan dari si Bos. Bertanyalah pada diri, “Apakah ini memang betul? Apakah memang demikian saya melakukan? Jangan-jangan memang iya, cuma tidak saya sadari.” Atau berbesar hati siapa tahu si Bos sedang dalam mood buruk atau barusan juga si Bos mendapat kritikan dari orang lain dan dia perlu menumpahkan kekesalan itu. Dan kebetulan Anda yang bisa dipanggil sebagai tumpahan ‘curhat’ si Bos.
  3. Ucapkan terima kasih
    Ibu saya pernah bercerita, bahwa saat naik angkutan umum melihat ujung rok seorang wanita terselip di baju atasnya, sehingga tampak auratnya. Menerima masukan Ibu saya, wanita itu menyadari memang betul. Betapa kagetnya dia. Karena sebenarnya selama itu dia sudah jalan kemana-mana. Berarti banyak orang yang melihat hal ini. Tapi kenapa tidak ada yang memberitahu?Kadang menerima kritikan dari si Bos itu menyakitkan. Tapi justru itu bisa saja bentuk sayang dan perhatian dari si Bos. Karena dia ingin menunjukkan ada yang perlu diperbaiki dari Anda, agar Anda bisa lebih baik lagi ke depan. Kritikan masih lebih baik daripada dibiarkan seperti cerita Ibu saya di atas. Jadi ucapkan terima kasih.
  4. Berjanji untuk memperbaiki diri.
    Buatlah janji pada si Bos untuk memperbaiki diri. Dan mintalah pertemuan berikutnya untuk menilai ulang Anda. Ini menunjukkan itikad baik Anda dan inisiatif untuk berubah. Yang terjadi seringnya si Bos lebih melihat kekurangan Anda daripada melihat perkembangan kemajuan Anda. Karena itu penting bagi Anda di pertemuan berikutnya melihat si Bos melihat hasil kerja atau perkembangan kemajuan Anda.
  5. Evaluasi kerja formal.
    Evaluasi atau penilaian kerja formal memang dapat membuat seseorang stres, karena hasilnya kadang membuat rasa sakit atau frustasi. Agar itu menguntungkan dan membuahkan hasil positif, Anda bisa melakukan hal-hal berikut ini:

    1. Berikan pujian pada diri sendiri. Ini tidak bermaksud sombong atau riya (dalam agama). Ini hanya menunjukkan hal-hal yang tidak Anda setujui dalam laporan formal atas hasil kerja Anda. Hal ini membuka kesempatan komunikasi yang lebih terbuka dengan si Bos.
    2. Perbanyak kata “saya’ daripada “Anda atau Bapak/Ibu” dalam respon dari evaluasi kerja. Fokuskan pada apa yang Anda lakukan. Ini membantu Anda jauh dari tuduhan dan menghindari si Bos dalam posisi bertahan dari serangan Anda. Misal, “Saya akan lebih sering menginformasikan laporan-laporan kemajuan proyek ke depan,” daripada “Waktu itu saya sudah mengemail laporannya ke Bapak, tapi Bapak tidak memberi responnya.”
    3. Jauhi membuat vonis siapa yang benar, siapa yang salah. Anda tidak akan menjadikan lebih baik dengan menetapkan siapa yang salah atau siapa yang benar, apalagi menyalahkan si Bos. Lebih baik gunakan pernyataan yang menunjukkan sikap positif dan optimis, misal: “Ternyata sistem ini tidak bisa berjalan dengan baik lewat saya dan Bapak sendiri pun kurang puas hasilnya. Bagaimana kalau kita coba membuat sistem yang lain?”
  6. Bertanya pada rekan kerja
    Coba bertanya pada rekan-rekan lain, apakah juga mengalami situasi yang sama dengan si Bos. Tapi pastikan jangan menjelek-jelekkan si Bos di mata teman Anda. Bisa jadi perusahaan sedang mengalami kesulitan. Dan semuanya dipaksa untuk mengatasi kesulitan ini, termasuk para jajaran pimpinan di bawahnya. Sayangnya mereka tidak mampu ditekan, yang kemudian jadi menekan Anda.
  7. Langkah selanjutnya
    Bila si Bos memperlakukan cukup kasar kepada Anda, padahal ke orang lain dengan ramah, maka ada kemungkinan hubungan Anda dengan si Bos sudah tidak bagus lagi. Ini sebenarnya hal yang wajar. Di manapun akan ditemukan pasangan bos dan karyawan yang tidak cocok.

    1. Jika Anda tidak memiliki harapan untuk memperbaiki hubungan yang memburuk ini atau mengubah image si Bos kepada Anda, mintalah mediasi pihak lain seperti HRD untuk dicarikan solusinya. Atau mintalah ke HRD untuk pindah ke departemen/bagian/divisi lain.
    2. Bila tidak memungkinkan poin a di atas, tidak ada jalan kecuali berhenti bekerja. Ini memang tidak mengenakkan. Tapi dengan bekerja penuh tekanan seperti itu bisa mendatangkan banyak masalah ke Anda seperti sulit tidur, hati berdebar, stres, masalah percernaan dan lainnya. *(my/20160623)

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: