(ref: wikipedia.org)

(ref: wikipedia.org)

Secara kebetulan saya menemukan buku-buku biografi yang memang ingin saya baca. Ya, saya memang mengalami dilema. Di satu sisi ingin membaca buku-buku tersebut, tapi saya tidak mau membelinya. Saya merasa rugi membeli buku biografi ini, karena berpikiran hanya sekali baca. Setelah itu disimpan, tak dibaca lagi. Jadi rugi.

Ini, mungkin karena dana terbatas saja. Kalau dana berlebih, saya mungkin tidak menggunakan pertimbangan seperti ini. Bagus dan bermanfaat, ya dibeli saja. Karena itu buku-buku yang bersifat koleksi, dibaca sekali dan disimpan, jarang saya beli. Buku biografi dan lainnya adalah buku-buku fiksi, jarang saya beli.

Tapi di sisi lain, saya tertarik sekali membacanya karena banyak review yang mengatakan bagus. Apalagi buku itu terkait dengan tokoh-tokoh yang berpengaruh. Sebagian menjadi role model saya. Sebagai profil yang ingin saya tiru dari satu atau lebih beberapa kelebihannya.

Buku yang pertama adalah “Mereka Bicara JK”. Buku ini saya temukan di sebuah toko buku dalam keadaan diobral. Harganya tinggal 30.000, padahal aslinya harganya di atas 50.000. Lama saya menimbang, bahkan sempat membaca beberapa bab, tapi akhirnya tetap saya putuskan tidak membelinya. Hehehe.

Beberapa hari kemudian, tidak sengaja saya temukan buku “Sepatu Dahlan”. Yes, ini juga ingin saya baca. Kalau yang ini, saya tidak banyak pertimbangan. Karena buku ini ada di perpustakaan, jadi tinggal dibawa ke petugas, dibawa pulang dan dibaca. Habis dibaca ya dikembalikan lagi. Jadi tidak perlu pertimbangan lagi. Hehehe.

Buku “Sepatu Dahlan” ini memang bergaya novel. Jadi memang fiksi/imajinasi. Namun buku ini diangkat/diinspirasi dari kisah nyata. Yakni kehidupan masa kecil Dahlan Iskan. Dia adalah menteri BUM sekarang. Sempat sebagai dirut PLN, disamping tentu saja penguasa dari kerajaan media Jawa Pos.

Lalu setelah saya kembalikan, saya temukan buku “Soeharto Untold Stories” dan “Habibie dan Ainun”. Yes! Dua buku yang juga saya ingin baca. Buku “Soeharto Untold Stories” sudah pernah saya pegang. Tapi begitu melihat harganya, saya urungkan niat untuk memboyongnya. Mahal banget. Diatas 200.000! Sedang buku “Habibie dan Ainun” memang sudah saya cari kemana-mana, tidak ketemu. Ternyata memang selain sold out, buku ini tidak dijual secara luas. Karena buku ini diterbitkan secara internal.

Namun akhirnya saya putuskan yang saya boyong duluan adalah buku “Habibie dan Ainun”. Alasannya sederhana: lebih tipis! Hehehe. Sedangkan buku “Soeharto Untold Stories” sangat tebal. Tentu dengan ketebalan yang lumayan, saya harus menyediakan waktu yang cukup banyak. Sementara belum berani menyediakannya. Maklum masih karyawan.

Lalu apa hasilnya setelah membaca buku-buku tersebut?

Ya, nanti akan saya tulis di kelanjutan serial ini. Ditunggu ya…