Kubah (15): Silaturahim Menghindarkan Kunjungan Malaikat Maut

Home / Artikel / Kuliah Bekal Hidup / Kubah (15): Silaturahim Menghindarkan Kunjungan Malaikat Maut

Pulang kampung sekali setahun sudah jadi tradisi. Meski justru di waktu-waktu itu transportasi sulit. Sehingga asal keangkut sudah senang. Meski untuk itu nyawa taruhannya. (ref: dok.pribadi)
Pulang kampung sekali setahun sudah jadi tradisi. Meski justru di waktu-waktu itu transportasi sulit. Sehingga asal keangkut sudah senang. Meski untuk itu nyawa taruhannya. (ref: dok.pribadi)
Akhirnya habislah 40 hari itu. Dia lega karena orang terdekat dan dikenalnya sudah didatangi dan berkesempatan meminta maaf. Dia ikhlas dan bersiap menerima tamu malaikat Izrail. Dia bersiap menerima kematiannya.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Saat lebaran lalu orang-orang berbondong-bondong melakukan perjalanan. Tidak peduli jauh, macet, capek bahkan kerapkali harus bertaruh nyawa, mereka ikhlas saja melakukannya. Tujuannya untuk melakukan silaturahim. Yakni bertemu dengan orang tua, kakek nenek, saudara, kerabat, teman, tetangga lama dan lainnya.

Silaturahim ini bagi kebanyakan orang dikenal sebagai silaturahmi. Artinya hampir sama. Tapi secara arti kata per kata lebih baik menggunakan kata silaturahim.

Memang tradisi ini cukup unik. Dan konon hanya dilakukan di negeri Indonesia. Lalu mengapa harus bersusah payah melakukan silaturahim?

Banyak hadits yang mengangkat kegiatan silaturahim sebagai ibadah yang dianjurkan. Kedudukannya cukup tinggi. Kegiatan ini bisa mengantarkannya ke surga. Dan banyak manfaat dengan melakukan silaturahim ini.

Kita mulai dengan salah satu faedah silaturahim ini.

Pada zaman dulu ada seseorang yang bertamu ke rumah Nabi Musa. Saat tiba di sana, sudah ada tamu yang diterima Nabi Musa. Karena pentingnya urusan dengan Nabi Musa, orang ini bersedia menunggu selesainya urusan tamu tersebut.

Akhirnya selesai juga urusan tamu itu. Lalu dia berpamitan pulang. Maka orang yang menunggu itu ganti menemui Nabi Musa. Mulailah dia mengutarakan maksud kedatangannya. Setelah semua beres, dia iseng bertanya siapa tamu barusan yang menemui Nabi Musa sebelumnya.

Nabi Musa menjawab bahwa tamu sebelumnya itu adalah malaikat Izrail.

Nabi Musa melanjutkan perkataan bahwa salah satu yang disampaikan malaikat pencabut nyawa ini pada dirinya, adalah 40 hari lagi malaikat Izrail akan menemui tamu ini. Artinya 40 hari lagi orang yang bertamu ke Nabi Musa ini nyawanya dicabut malaikat Izrail. Itu berarti dia akan mati.

Gemetarlah orang itu. Dia ketakutan dengan berita ini. Setelah meyakinkan kebenaran berita ini, dia buru-buru pamitan pulang.

Di rumah dia menangis. Bingung. Sekaligus takut. Akhirnya dia memutuskan untuk berpamitan sekaligus meminta maaf pada orang-orang terdekat dan dikenalnya. Dia akan memanfaatkan waktu 40 hari itu sebaik-baiknya untuk menemui orang-orang tersebut.

Pertama kali dia datangi kedua orang tuanya. Lalu saudara dan kaum kerabatnya. Berikutnya pada teman-temannya. Terakhir dia mengunjungi 40 tetangga sebelah kanannya, 40 tetangga sebelah kirinya, 40 tetangga depannya dan 40 tetangga belakangnya.

Akhirnya habislah 40 hari itu. Dia lega karena orang terdekat dan dikenalnya sudah didatangi dan berkesempatan meminta maaf. Dia ikhlas dan bersiap menerima tamu malaikat Izrail. Dia bersiap menerima kematiannya.

Namun ditunggu seharian, malaikat Izrail tidak datang. Demikian besok, besok dan besoknya. Akhirnya sampai beberapa hari ini orang ini belum juga mati.

Bingung dengan hal ini, karena tidak sesuai dengan kabar yang disampaikan oleh Nabi Musa, maka dia kembali menemui Nabi Musa.

Dia tanyakan kenapa dia tidak kunjung ditemui oleh malaikat Izrail. Bukankah malaikat Izrail sudah mengatakan itu pada Nabi Musa. Nabi Musa diam. Dan bertanya pada tamunya, apa yang sudah dilakukan di 40 hari terahir. Tamu menjawab bahwa dia telah melakukan silaturahim ke orang-orang terdekat dan orang yang dikenalnya.

Lha, itu dia. Kegiatan silaturahim itulah yang memperpanjang usia Anda. Karena di waktu 40 hari terakhir itu Anda telah melakukan kunjungan dan meminta maaf sehingga membuat Allah menambah usia Anda.

~~~
Dari cerita ini, kita bisa ambil hikmah bahwa dengan melakukan kunjungan ke orang terdekat dan orang yang dikenal dapat memperpanjang usia. Juga dari cerita ini, kita tahu urutan yang harus dikunjungi yakni orang tua dan terakhir tetangga.

Prioritas utama memang pada orang yang memiliki hubungan darah. Seperti arti kata silaturahim. Sila = menyambung, rahim = kasih sayang atau bisa dikatakan rahim Ibu. Pertalian darah atau hubungan kelahiran.

Lalu di acara silaturahim harus ada permintaan maaf. Tidak sekedar datang, makan-makan, ngobrol atau malah gosip. Bersalaman dna ikhlas meminta maaf dan memberikan maaf.

Jadi kegiatan mudik kemarin termasuk kegiatan silaturahim. Semoga dengan perjalana mudik yang capek dan menguras banyak dana itu, benar-benar bisa menambah usia kita. Amin.

Btw, bagaimana perjalanan mudik Anda kemarin? [SUMA, 19/8/2013 siang]

~~~
Kubah adalah Kuliah Bekal Hidup. Tulisan di serial Kubah ini mencoba mencari hikmah dari semua kejadian yang terjadi di alam dan kehidupan sehari-hari. Semoga dengan hikmah ini kita dapat hidup bahagia di dunia dan mulia di akhirat. Artikel lain bisa Anda baca di serial ‘Kuliah Bekal Hidup, http://www.enerlife.web.id/category/kubah/’ lainnya.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://www.yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://www.facebook.com/mcd.yusuf.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

-->