Mencari Buah Kebahagiaan

Home / Uncategorized / Mencari Buah Kebahagiaan

gk merenung 01Sekarang saya malah ragu, apakah anda berkata benar tentang buah Zelda itu. Benarkah anda makan buah Zelda agar selalu tetap bahagia. Karena sudah saya jelajahi, tak seorangpun tahu buah ajaib itu.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Syahdan di sebuah negeri, tinggal pemuda yatim piatu. Orang tuanya meninggal bersamaan dalam sebuah kerusuhan yang terjadi di negeri itu.

Sejak itu dia merasa Tuhan tidak adil padanya. Dia sudah tidak memiliki orang tua, harus menghidupi pamannya yang sakit. Padahal orang tuanya tidak mewariskan apapun padanya. Dia sendiri memiliki penyakit yang tak kunjung sembuh.

Karenanya dia menjadi pemurung, suka mengeluh dan pemarah. Sedikit-sedikit dia mengumpat dan berkata kasar. Sehingga lama-kelamaan, tidak banyak orang yang berteman dengannya. Sehingga dia makin marah dengan Tuhan yang tidak adil.

Sebaliknya dia memiliki tetangga yang memiliki sifat yang berbeda. Tetangganya ini seorang bapak tua yang memiliki beberapa anak yang berhasil di bidangnya masing-masing. Pak tua ini periang, suka tersenyum, suka menyapa sehingga memiliki banyak sahabat.

Suatu hari pemuda itu bertamu ke rumah pak tua. Sang pemuda berkata, “Pak tua, saya dengar anda adalah orang yang paling bijaksana di desa ini. Berilah saya nasehat.” Dia diam sebentar. “Begini, pak tua. Saya merasa tak pernah bahagia dalam hidup ini. Apa gerangan sebabnya?”

Pak tua berpikir sejenak. Kemudian dia berkata, “Rahasianya mudah. Saya selalu setiap pagi makan buah Zelda. Dengan buah ini, saya selalu mendapat kebahagiaan. Buahnya berwarna ungu dan putih. Cobalah cari buah itu.” “Buah Zelda? Aneh, saya baru dengar sekarang. Di manakah gerangan buah itu?” tanyanya dalam hati.

Esoknya pemuda memutuskan mencari buah Zelda. Setelah menitipkan pamannya pada pak tua, pemuda ini berkelana mencarinya. Setahun kemudian sang pemuda kembali ke desa tersebut.

Sang pemuda, yang kini wajahnya segar dan ceria, datang ke rumah pak tua. “Sudahkah kau temukan buah Zelda?” Sang pemuda menggeleng, “Tidak. Tapi saya sudah menemukan kebahagiaan itu.”

“Sekarang saya malah ragu, apakah anda berkata benar tentang buah Zelda itu. Benarkah anda makan buah Zelda untuk selalu tetap bahagia. Karena sudah saya jelajahi semua desa, kota dan pelosok lainnya. Tak seorangpun tahu tentang buah ajaib itu.”

Sambil tersenyum pak tua berkata, “Benar dugaanmu, pemuda. Buah Zelda hanyalah rekaanku belaka. Tentu saja kau tak pernah dapat menemukannya. Tetapi ngomong-ngomong, bagaimana cara kamu mendapat kebahagiaan itu?”

Sang pemuda menjawab, “Saya menikmati perjalanan itu. Di mana-mana saya menjalin persahabatan. Setiap hari ada hal-hal baru yang kulihat. Saya mencoba ramah pada semua orang dan banyak membantu. Beberapa di antaranya malah mengganggapku sebagai saudara. Nah, ternyata dengan banyak bersahabat dan melihat luasnya dunia, hati kita menjadi bahagia.”

Pak tua mengangguk-angguk setuju.

~~~
Ternyata kebahagiaan itu ada pada diri. Kalau kita bersikap dan berperilaku baik, kebahagiaan itu akan muncul sendiri. Sebaliknya kalau kita bersikap buruk, maka kebahagiaan itu semakin jauh dari kita. Sudahkah anda melakukan hal ini?

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

One Comment

  • Apakah buah kebahagiaan itu seperti yang dibisikkan iblis di surga dulu ya? Kita tergoda untuk selalu mencari dan memakan buah bahagia. Padahal sebenarnya buah itu sudah kita miliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

-->