(ref. sxc.hu)

(ref. sxc.hu)

Akhirnya mereka sepakat untuk menjalankan rencananya masing-masing. Nelayan pertama akan pergi ke pantai terdekat untuk membeli bekal. Sedangkan nelayan kedua akan berdoa agar Tuhan mengirim bekal kepadanya.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Pada suatu hari ada 2 nelayan yang sepakat pergi mencari ikan bersama-sama. Mereka berharap dengan mencari ikan dengan saling bekerja sama bisa mendapat ikan lebih banyak. Ini karena terakhir-terakhir para nelayan sering pulang melaut dengan tangan hampa.

Maka dengan perahu-perahu masing, mereka berangkat ke laut. Karena mencari ikan bukanlah dilakukan di waktu yang singkat, maka mereka membawa cukup bekal.

Namun memang sepertinya ikan-ikan pada sembunyi atau melakukan migrasi entah ke mana. Sehingga setelah beberapa hari mereka berdua tetap tidak mendapat ikan. Padahal bekalnya sudah hampir habis.

Nelayan pertama mengusulkan untuk pulang saja, karena bekal hampir habis. Atau setidaknya pergi ke pantai terdekat untuk membeli bekal. Tapi nelayan kedua menolak, karena jaringnya sudah disebar. Menunggu beberapa saat mungkin ada ikan yang bisa didapat oleh jaringnya.

“Lalu bagaimana kamu bisa mendapat bekal, kalau tidak berusaha?” tanya nelayan pertama.

“Berdoa. Saya akan berdoa agar Tuhan mengirim bekal ke saya,” jawab nelayan kedua.

“Gila kamu. Mana bisa dengan berdoa saja, Tuhan akan mengirim bekal ke kita,” sergah nelayan pertama.

“Saya percaya Tuhan akan mendengar doa saya,” balas nelayan kedua.

Akhirnya mereka sepakat untuk menjalankan rencananya masing-masing. Nelayan pertama akan pergi ke pantai terdekat untuk membeli bekal. Sedangkan nelayan kedua akan berdoa agar Tuhan mengirim bekal kepadanya.

Akhirnya setelah beberapa lama, nelayan pertama kembali ke lokasi nelayan kedua.

“Bagaimana? Apakah Tuhan telah mengirim bekal padamu,” ejek nelayan pertama.

“Belum,” jawab nelayan kedua kalem.

“Kasihan kamu. Nih saya bagi 2 bekal yang tadi saya beli. Ini untukmu,” kata nelayan pertama.

Tiba-tiba nelayan kedua berseru, “Alhamdulillah, Engkau kabulkan doaku ya Tuhan. Engkau kirim aku bekal.”

Hehehe. Ini sebenarnya cerita yang ada di sebuah status seorang teman. Tentu sebuah cerita khayalan. Tapi memang menarik dan menggelitik. Membuat saya merenung apakah memang bisa mendapat rezeki hanya dengan berdoa? Bukankah harusnya dengan usaha dan diiringi dengan doa. Apakah cukup dengan berdoa kita bisa mendapat rezeki?

Namun beberapa hari lalu saya membaca sebuah kisah yang ada di buku ‘Kisah-Kisah Allah’. Buku karangan Ahmad Mir Khalaf Zadeh dan Qasim Mir Khalaf Zadeh sangat menarik. Karena kisa yang diceritakan adalah kisah nyata. Sumber buku ini adalah pengalaman seseorang, al Qur’an dan Hadits. Cerita ini ada di zaman Nabi Daud.

Syahdan ada seorang ahli ibadah yang percaya bahwa rezeki bisa diturunkan hanya dengan berdoa. Tentu saja banyak orang mencibir. Karena semua orang harus bekerja untuk mencari rezeki. Bahkan nabi Daud sendiri bekerja menanam sendiri untuk mendapat roti.

Akhirnya ada seekor sapi masuk ke rumah ahli ibadah itu. “Alhamdulillah, Engkau kirim rezeki padaku,” kata ahli ibadah. Maka ahli ibadah itu menyembelihnya dan memasaknya untuk dinikmati.

Beberapa hari kemudian ada orang masuk ke rumah ahli ibadah dan marah-marah. Ternyata dia adalah pemilik asli dari sapi yang masuk ke rumah ahli ibadah itu. Ganti rugi, teriak-teriak pemiliknya. Tidak, itu rezeki yang diturunkan Tuhan padaku, jawab ahli ibadah.

Karena mereka tidak saling mengalah, akhirnya mereka sepakat membawa masalah ini ke nabi Daud. Orang yang dikenal adil. Maka mereka menceritakan masing-masing kisahnya. Setelah Nabi Daud mendengar semua cerita dan argumentasi mereka masing-masing, maka nabi Daud berdoa untuk diberi wahyu tentang kasus ini.

Akhirnya wahyu itu datang dan nabi Musa berkata pada pemilik sapi supaya mengikhlaskan saja. Karena dibandingkan kekayaan yang dimilikinya tidak sebanding. Lebih baik diikhlaskan daripada malapetaka yang lebih besar bila tidak memberikan sapi itu secara ikhlas.

Karena ini keputusan nabi Daud yang adil, yang tentunya berdasar wahyu Tuhan yang diturunkan, maka pemilik sapi menerima keputusan ini. Namun beberapa hari kemudian pemilik sapi membuat onar dan membuat tuduhan pada ahli ibadah. Orang-orang berkumpul karena termakan teriakan pemilik sapi ini.

Karena kegaduhan ini nabi Daud datang. Akhirnya orang-orang tahu permasalahan ini dan menanyakan kenapa keputusan seerti itu diambil. Akhirnya nabi Daud bercerita bahwa sebenarnya semua kekayaan pemilik sapi adalah miliknya ahli ibadah.

Semua yang hadir bingung. Bagaimana bisa?

Ternyata pemilik sapi ini dulunya adalah budak dari ayah ahli ibadah. Dalam sebuah perjalanan, budak ini membunuh majikanya dengan pedang pendek. Setelah membunuh pedang pendeknya ini ditanam di bawah sebuah pohon besar. Dengan kekayaan majikannya ini pemilik sapi itu menjadi kaya raya.

Orang-orang ini serasa tidak percaya dan menuju ke pohon yang dikatakan nabi Daud. Maka mereka beramai-ramai menggali di bawah pohon itu. Dan benarlah, ada sebuah pedang pendek. Maka nabi Daud memerintahkan ahli ibadah itu untuk membunuh pemilik sapi sebagai balasan atas kejahatannya. Lalu ahli ibadah itu membunuh pemilik sapi dan menguasai semua kekayaan pemilik sapi.

Ya, ini peristiswa di masa lalu, dimana utusan Tuhan ada dan bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Kalau sekarang, akan susah membuktikan hal-hal seperti demikian.

Maka seharusnya kita tetap tidak meninggalkan doa selama mencari rezeki. Berusaha harus. Dan lebih baik lagi diiringi dengan doa. Selanjutnya hasilnya kita serahkan pada Tuhan. [PR, 9/4/2013]

~~~
Artikel ini bagian dari buku yang saya rencanakan terbit. Rencananya ada 99 artikel yang berkaitan dengan rahasia rezeki. Untuk seri 1 sampai 10, anda bisa membaca secara lengkap di http://enerlife.web.id/category/rejeki/. Setelah seri itu, tak ditampilkan secara lengkap. Namun hanya setiap kelipatan seri 5 yang ditampilkan secara lengkap. Jadi pantau terus serial ‘Rahasia Rezeki’ ini.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang TI, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.