(ref: sxc.hu)

(ref: sxc.hu)

Para polisi, jaksa, hakim, mereka lebih melek hukum. Seharusnya tahu mana yang salah, mana yang benar. Jadi kalau melanggar, harusnya dihukum seberatnya. Tak cukup secara administrasi atau dimutasi.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Malam ini saya baca status Facebook sebuah radio swasta Surabaya yang terkenal dengan liputan langsung dari pendengarnya. Sebuah bus umum telah menabrak 2 sepeda motor di depannya. Melaju terus, baru berhenti setelah menabrak mobil dari arah berlawanan. Hasilnya mobil tersebut masuk sungai. Untung 4 penumpangnya selamat. Tapi 2 pengendara sepeda motor tewas di tempat kejadian.

Langsung banyak komentar yang muncul. Paling banyak mengatakan bahwa kebanyakan bus yang bertrayek Mojokerto-Pasuruan itu memang sering ugal-ugalan. Tak tertib, cepat meski macet, berhenti mendadak, ngetem di sebarang tempat, mengambil jalan di jalur berlawanan dan lainnya. Tapi meski begitu, tak ada sesuatu yang dilakukan supaya para bus kuning, lebih dikenal, itu lebih tertib. Faktanya setiap hari kejadiannya seperti itu.

Saya langsung teringat kejadian 5 bulan lalu. Sebuah lampu merah lalu lintas perempatan jalan protokol yang ramai di Surabaya menyala. Namun sebuah sepeda motor melaju kencang tak menghiraukan tanda berhenti ini. Dari arah yang lain, sebuah sepeda motor mulai melaju pelan karena lampu hijau menyala, tanda dia boleh jalan.

Tak elak terjadi tabrakan. Tapi siapa yang jadi korban? Pengendara yang tertib itu yang jadi korban! Dia tewas di tempat kejadian. Yang melanggar malah selamat.

Sering kita dengar ungkapan, “Mulailah dari diri sendiri dulu, biarlah yang lain melakukan seperti itu.” Hal ini sering menjadi komentar untuk status saya, bila saya menyorot sebuah kasus korupsi atau penyimpangan yang dilakukan aparat.

Hal itu benar. Tapi tak cukup. Tak hanya kita yang harus benar, tapi yang lain juga harus benar. Bahkan kalau salah harusnya dihukum sekeras-kerasnya, terlebih menyangkut nyawa. Karena nyawa tak bisa tergantikan. Juga menjadi peringatan bagi yang lain supaya tak melanggar.

Apakah 2 pengendara sepeda motor bisa hidup lagi, setelah pengemudi sadar dan menggunakan itu sebagai pengalaman? Atau pengemudi bus lain akan lebih hati-hati?

Kasus korupsi yang melanda para aparat negara kita seharusnya dihukum dengan hukuman seberat-beratnya. Karena mereka sudah tahu salahnya bahkan aturannya.

Para polisi, jaksa, hakim, mereka malah lebih melek hukum. Seharusnya lebih tahu mana yang salah mana yang benar. Jadi kalau melanggar harusnya dihukum seberat-beratnya. Tak cukup hanya dihukum secara administrasi atau dimutasi. Ini tak adil bagi rakyat yang sudah patuh pada aturan.

Suatu ketika, saya tahu Zidan anak laki saya, kalau mengerjakan ulangan selalu cepat-cepat. Waktu yang diselesaikan jauh sebelum waktu ulangan berakhir. Saya katakan untuk lebih memaksimalkan waktunya. Kalau sudah selesai, tapi waktunya masih ada, periksa/koreksi lagi, siapa tahu ada yang luput.

Tapi Zidan menjawab, “Tapi semua teman seperti itu, Yah!” Saya bilang, “Kamu nggak usah ikut-ikutan teman-temanmu.” “Tapi Yah, aku nanti sendirian…” sambil matanya memerah mulai menangis. Saya tertegun. Ya, memang susah kalau kita hanya sendirian.

Untung itu peristwa Zidan tak berdampak buruk, kecuali nilai yang nggak bisa sempurna. Tapi kasus bus kuning, kasus lampu lintas, korupsi, kalau kita dan keluarga sudah tertib, tapi yang lain tidak, yang rugi kadang yang sudah tertib itu sendiri.

Saatnya sekarang kita mulai dari diri sendiri dan menyeru pada yang lain untuk melakukan juga. Tak cukup hanya memulai kita sendiri. Kalau tidak, kesadaran kita bisa sia-sia atau konyol seperti pengendara sepeda motor yang tak tahu apa-apa. Tiba-tiba bangun, dan sadar sudah di akhirat. Dan anda tak mau seperti itu kan? [TSA, 30/3/2010 tengah malam]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.