Actually Quite Easy To Move Forward Indonesia

Home / Blog / Actually Quite Easy To Move Forward Indonesia

(ref: sxc.hu)
(ref: sxc.hu)
Is differ the Indonesian, Singaporean, American, Scandinavian (which it said that a corruption-free country)? Same thing. They are so good because they are orderly and obedient to the law. The fact that the Indonesian as well as in foreign countries people. Orderly and law-abiding. Because they afraid of punishment too.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Untuk memajukan negeri ini sebenarnya cukup mudah. Para pemimpin atau siapa saja yang memmiliki kewenangan untuk menegakkan hukum, tinggal menegakkan hukum saja. Tanpa kecuali. Tanpa alasan. Dan tidak ada negosiasi.

Apakah bangsa Indonesia beda dengan bangsa Singapura, Amerika, Skandinavia (yang katanya bebas korupsi itu)? Sama saja. Mereka jadi tertib dan hebat karena patuh dengan hukum. Kenyataannya bangsa Indonesia demikian juga kalau di negeri asing. Tertib dan taat hukum. Karena juga takut dengan hukumannya.

Seperti fenomena menarik di perbatasan Indonesia – Singapura. Banyak orang Indonesia saat mau berangkat bekerja ke Singapura, tidak tertib di pelabuhan Batam. Berebut dan tidak antri. Saling sikut dan merugikan bagi yang lemah.

Tapi saat turun di pelabuhan Singapura, mereka jadi tertib dan antri. Orang yang sama, di jam yang sama, berjarak hanya beberapa kilometer, perangai mereka bisa berubah drastis. Karena saat di Singapura, ada polisi dari Gurkha yang disiplin, tanpa ampun dan tak mau suap. Tidak tertib langsung denda Rp 500.000 (ini kalau dikurskan rupiah).

Jadi tertib karena penegakan hukum yang kuat. Orang Singapura, orang Amerika, Australia atau apapun di Indonesia juga tidak tertib (ingat kasus perekaman turis asing saat menyuap di Bali waktu melanggar lalu lintas). Mereka tertib karena takut dengan hukum.

Lha, di sini hukum bisa diatur. Atau melentur. Contoh penegakkan hukum jalur busway di Jakarta. Semua sudah sepakat, pemda, polisi, kehakiman; bahwa melanggar jalur busway dihukum 500.000 bagi motor dan sejuta bagi mobil. Namun saat di pengadilan hanya dihukum 70.000 (apalagi ada yang nangis-nangis). Saya yakin, yang kena hukuman itu tidak kapok untuk melenggar di busway. Ahok, wakil gubernurnya, sampai geram dan tidak tahu harus berbuat apa.

Padahal saat yang lain tidak tertib, akan merugikan yang lain.

Seperti contoh pagi ini. Saat mau berangkat mengantarkan Zidan sekolah, ada truk mogok. Ketika sudah dekat, saya baru tahu kalau mogoknya itu karena as rodanya patah. Luar biasa. As yang baja itu sampai patah, itu pasti karena ‘overload’. Belum saya lihat truknya bobrok. Bagaimana truk seperti ini masih diperbolehkan beroperasi? Atau bagaimana mungkin muatan yang melebihi kemampuan kendaraannya bisa sampai lolos jembatan timbang.

Jadinya jalan macet panjang. Terlebih hari Senin di mana banyak orang yang dari luar kota harus kembali ke Surabaya untuk bekerja. Juga barusan tadi malam hujan, sehingga para sepeda motor tidak turun di bahu jalan, karena jalannya becek. Semua mengumpul di jalan. Padahal jalan hanya bisa dipakai separuh jalan, karena lajur kanan ada truk mogok tersebut.

Akhirnya Zidan terlambat ke sekolah!

Tapi kenapa mereka tidak mau menegakkan hukum dengan benar? (Padahal kita belum bicara apakah hukumnya sudah benar atau tidak, misal korupsi harusnya dihukum berapa tahun…) Mungkin tidak semudah saya katakan. Tapi yang penting amau atau tidak. Adakah keinginan kuat untuk menegakkan hukum di negeri ini? Bila ada, permasalahan yang muncul akan dicarikan solusinya. Bukan jadi alasan untuk berhenti menegakkan hukum. [PUTA, 16/12/2013]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang ‘online communication’, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

One Comment

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: