Enerlife [4]: Mengaji untuk Orang Tua

Home / Artikel / Motivasi & Inspirasi / Enerlife [4]: Mengaji untuk Orang Tua

(ref: sxc.hu)
(ref: sxc.hu)
Syahdan dahulu kala ada seorang pengusaha yang melakukan perjalanan bisnis ke daerah kampung kelahirannya. Dia sudah lama meninggalkan kampung halaman. Yakni sejak kepindahannya ke kota saat mulai masuk bangku sekolah menengah. Sejak itu, dia tidak pulang ke kampung kelahirannya. Hanya 3 kali. Yakni saat mau menikah, dan meninggalnya ayah dan ibunya. Itu pun saat pemakaman bapak dan ibunya, dia sudah terlambat. Karena sudah dimakamkan.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Mulai dini hari dia sudah berkeliling melakukan pembicaraan dengan partner dan klien. Benar-benar hari melelahkan. Siang harinya dia beristirahat sambil menikmati es degan. Baru sadar makam kedua bapak ibunya tidak jauh dari tempat dia minum es degan itu.

Terbersit mengunjungi makamnya. Akhirnya dia putuskan menitipkan mobil sewaannya pada penjual es degan, dan dia berjalan ke makam tersebut.

Setelah berdoa di depan kedua makam orang tuanya, dia beristirahat sejenak. Makam tampak rindang. Pohon-pohon Kamboja tambak subur dan rindang. Angin semilir-semilir membuat mata ngantuk. Dan tertidurlah dia.

Dia terbangun saat suara ramai di sekitarnya. Dia melihat banyak orang seperti berebut. Semuanya ikut berebut mendapatkan sesuatu yang entah jatuh dari langit. Semua orang. Eh, ada 1 orang yang tidak ikut.

Penasaran, dia mendekati.

“Ada apa nih, Pak?” tanya dia ke orang yang tidak ikut berebut.

“Biasa, mas. Berebut amal shalih yang dipanjatkan orang-orang yang masih hidup,” katanya. “Saat seperti ini ada yang berdoa minta kebaikan bagi orang muslim dan mukmin. Itu yang biasa diucapkan saat berdoa bersama. Seperti ‘Allahummaghfir lil muslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati.'”

“Lha, Bapak kok nggak ikut berebut?”

“Tidak, Mas. Saya sudah punya cukup banyak amal shalih.”

“Lho, kok bisa?”

“Iya. Anak saya yang penjual es dawet itu, sambil menunggu dagangannya membaca Al Qur’an. Dan sebelum membaca, dia berdoa kepada Allah, agar pahalanya juga ditujukan ke saya.”

“Di mana tepatnya dia berjualan?”

“Di pasar Kliwon. Dia ada dekat pintu utara sisi kiri. Dawetnya diletakkan di atas sepeda motornya. Kakinya agak pincang, karena waktu kecil kecelakaan. Dan di bawah dagunya ada tahi lalat yang cukup besar.”

“Oh, pasar dekat sekolah SD Inpres itu, ya?”

“Betul.”

Begitu sang Bapak mengucapkan kata itu, tiba-tiba pengusaha itu merasa pusing. Dan dia jatuh. Saat seperti itu, dia menggapai tangan ke atas untuk mencari keseimbangan. Ditangkapnya sebuah batang pohon Kamboja.

Tiba-tiba dia tersadar. Ternyata dia tertidur dan bermimpi. “Oh, ternyata hanya mimpi.” Dilihatnya jam tangannya. Ternyata dia tertidur sekitar 30 menit.

Dia kembali ke penjual es degan untuk mengambil mobil melanjutkan perjalanannya. Sambil mengucapkan terima kasih, dia iseng bertanya apakah ada penjual es dawet di pasar Kliwon yang ciri-cirinya seperti yang ada di mimpinya.

Terkejutlah dia. Karena penjual es dawet itu ada. Benar-benar nyata.

Tergesa-gesa dia memacu mobilnya mendatangi pedagang dawet. Dan memang benar ada, penjual dawet itu. Didatangi dia dan mulailah dia menceritakan mimpinya saat tertidur di makam. Penjual dawet hanya mendengar dan lalu berkata, “Alhamdulillah. Allah menerima pahalaku dan juga menyampaikan kepada Bapak.”

Sejak itu, sang pengusaha tersadar, bahwa dia tidak pernah mendoakan bapak ibunya. Dan yang lebih penting lagi, dia tidak pernah mengaji. Sekarang dia bertekat, menyisihkan waktunya di pagi dan malam hari untuk mengaji. Dan berdoa agar pahalanya juga disampaikan kepada bapak ibunya. Dia memohon maaf, selama ini dia telah melupakan bapak ibunya.

Waktu berlalu. Beberapa tahun kemudian, dia kembali melakukan bisnis ke kota dekat kampung kelahirannya. Dia memutuskan ke makam kedua orang tuanya. Dan setelah berdoa, dia jatuh tertidur.

Seperti sebelumnya dia terbangun oleh suara-suara terbisik. Kali ini dia melihat Bapak Ibunya duduk dekat dengan pengusaha itu. Mereka tersenyum. “Terima kasih, anakku,” kata mereka. Pengusaha itu senang dan merangkul mereka.

Setelah puas berpelukan, dia mencari-cari bapaknya sang penjual dawet. Sekarang dia tidak terlihat duduk-duduk. Ternyata dia melihat dia sedang berebut juga amal shalih.

Didekatinya dan bertanya, “Lho, kok Bapak ikutan juga berebut?”

“Iya. Sekarang sudah tidak ada yang mengirim amal shalih lagi.”

Belum sempat bertanya ada apa dengan anaknya penjual dawet itu, dia terbangun. Terburu-buru dia menuju ke pasar Kliwon. Kali ini di dekat pintu utara tidak tampak penjual es dawet. Ternyata kata orang-orang, penjual dawet ini sudah meninggal dunia beberapa waktu lalu. Dan dia tidak sempat meninggalkan anak, karena belum menikah.

Sekarang pengusaha insyaf. Bahwa ada kewajiban lain yang harus dilakukan. Anak-anaknya bukan hanya anugerah dan rezeki, tapi juga bisa menjadi alatnya bekal di masa depan. Mereka harus dididik menjadi anak shaleh yang nantinya mau mendoakan dia, orang tuanya, dan juga kakek-neneknya ke atas. Juga harus rajin mengaji untuk kebaikan dia, anak-anaknya dan kedua orang tuanya ke atas.

~~~

Cerita ini diceritakan seorang ustadz saat saya mengikuti sebuah pengajian. Tentu saja, cerita ini saya tambahkan beberapa bumbu sebagai penguat, misal: dia penjual dawet. Saya lupa dia sebenarnya penjual apa. Dan kejadiannya bukan di Indonesia. Tapi di tanah Arab, saat banyak sahabat-sahabat Nabi masih hidup.

Sebuah cerita yang mengingatkan saya untuk selalu mengaji. Sesuatu yang kelihatan ringan, tapi ternyata berat. Seandainya membaca koran bisa dapat amal shalih, saya mungkin akan berlangganan banyak koran. Hehehe.

Kini, saya coba saya, pribadi dan anak-anak untuk rajin mengaji. Tidak harus banyak. Minimal selembar halaman Al Qur’an sehari sudah cukup. Syukur-syukur kalau lebih. Semoga saya tetap bisa istiqomah. Amin. [PURI, 17/10/2012 pagi]

~~~
EnerLife, ‘Energize Your Life’, adalah tulisan motivasi bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta memberi motivasi kesuksesan hidup. Anda bisa membaca artikel EnerLife lainnya di: http://EnerLife.web.id.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: