(dok.pribadi)

Sebenarnya enakan mana sih punya anak cowok atau cewek? Saya sendiri punya anak cowok. Dengan anak cowok ini, saya bisa melampiaskan dendam main game multiplayer yang dulu tak bisa saya lakukan.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Minggu pagi di lapangan perumahan tampak seorang Bapak dan anaknya. Meski anak, tapi perawakannya tidak kalah dengan sang Bapak. Bahkan secara fisik lebih tinggi dan besar dari bapaknya. Padahal dia masih duduk di bangku kelas 3 SMP.

Minggu pagi yang cerah itu mereka bermain basket. Lapangan perumahan yang sudah diplester, membuat gayeng hubungan bapak-anak dengan saling berebut dan memasukkan bola ke ring basket.

Diam-diam seorang Bapak lain mengamati mereka. “Hmm… enak ya, kalau punya anak cowok. Bisa main bareng,” gumannya.

Tetangga lain yang mendengar gumanan ini berseloroh, “Wis, sampeyan tidak mungkin akan menyunatkan anak sampeyan.” “Iya, hanya mantu dan mantu,” kata bernada jengkel. Mereka berdua tertawa keras. Karena kedua Bapak ini bernasib sama: semua anaknya cewek, meski yang satunya sampai punya 4 anak.

Bapak lain yang mendengar gurauan itu berkata serius, “Saya bayangkan, kalau nanti dalam perjalanan, anak saya yang cowok itu bisa menggantikan saya menyetir. Pasti asyik…”

“Betul,” kata Bapak yang lain, “Dia,” katanya sambil menunjuk anaknya yang masih duduk di bangku kelas 2 SD, “Sudah berkeinginan membantu ayahnya mengemudi kelak.”

Perbicangan di Minggu pagi saat kerja bakti itu semakin gayeng. Ramai memperbincangkan dan mengolok-olok secara gurau yang lain tentang anaknya yang cowok dan cewek.

“Ya sudah, kalau saya tidak punya anak cowok, saya buat anak cowok di rumah lain. Bukan di rumah ini,” guyon sang Bapak yang tentu saja disambut ledakan ger yang hebat. Karena mengandung kalimat yang menyerempet bahaya.. Hehehe.

Saya tentu saja ikutan tertawa. Tiba-tiba saya merenung. Sebenarnya enakan mana sih punya anak cowok atau cewek?

Saya sendiri anak pertama saya cowok. Anak cowok ini, ternyata memiliki hobi yang sama: main game. Jadinya saya bisa melampiaskan dendam bermain game multiplayer ‘Quake’, ‘Need for Speed’ atau ‘Counter Strike’ dengan anak cowok saya.

Sesuatu yang dulunya saya jalankan saat bujang, karena bisa main game multiplayer bersama teman-teman kantor. Namun sejak menikah, karena susah ngelmbur kalau tanpa alasan kuat, maka saya tidak bisa ikutan main game multiplayer lagi di kantor. Saya cukup puas hanya bermain game dengan mode ‘single player’ saja.

Kadang di hari Minggu menonton film bareng dengan anak cowok ini di bioskop. Kesukaannya yang juga nonton film, membuat saya merasa ada temannya. Maklum istri tidak begitu suka menonton film. Jadi agak susah mengajak istri untuk menonton film bioskop. Dengannya saya bisa berdiskusi dan menikmati aksi-aksi memikat para aktor di film-film yang menarik.

Banyak hal lain yang rasakan begitu asyiknya punya anak cowok. Seakan dia tak hanya sebagai anak, tapi anak cowok bisa menjadi teman. Anak saya ini masih kecil kalau sudah besar, mungkin saya bisa mengajaknya main basket seperti tetangga saya tadi. Atau jogging bareng yang sering saya lakukan tiap pagi.

Tapi meski begitu, saya suka dengan anak cewek saya. Anak kedua ini meski masih duduk di bangku kelas 1 SD, sudah rajin membantu bundanya memasak. Juga kadang rajin bersih-bersih rumah. Saya bayangkan kalau sudah besar, dia bisa seperti bundanya.

Makanya kadang saya berseloroh pada istri saya, kalau sudah tua saya ingin ‘ngenger’ (ikut hidup) saja pada anak cewek saya. Karena pasti lebih terawat dan terpelihara. Hehehe.

Lalu sebenarnya enakan mana sih punya anak cowok atau cewek?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak tepat. Yang tepat apapun anaknya, harus dididik dengan baik. Anak cowok atau cewek punya resiko yang sama, meski berbeda-beda bentuknya. Namun bila dididik dengan baik, baik anak cowok atau cewek, akan bisa membanggakan dan membahagiakan orang tuanya. Sebaliknya, tanpa dididik dengan baik, anak cowok atau cewek akan sama merepotkan nanti.

Jadi pertanyaan yang tepat adalah sebenarnya apa yang sudah kita lakukan mendidik anak kita dengan baik? Jangan hanya berharap anak kita tumbuh dengan baik, tanpa ada yang kita lakukan. Anak yang baik akan muncul dari orang tua yang baik.

Jadi sudah baikkah Anda sebagai orang tua? [PR, 30/10/2012]

~~~
EnerLife, ‘Energize Your Life’, adalah tulisan motivasi bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta memberi motivasi kesuksesan hidup. Anda bisa membaca artikel EnerLife lainnya di: http://EnerLife.web.id.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .