Lupa dengan Kampung Halaman

Home / Blog / Lupa dengan Kampung Halaman

Masa kecil Ibu saya di Probolinggo. Dulu waktu saya kecil, kalau ada kesempatan, misal: saat liburan sekolah, saya diajak ke rumah orang tuanya (kakek nenek). Meski kadang lama tinggal di sana karena liburan panjang sekolah itu, saat mau pulang Ibu tetap sedih dan terharu. Saat menunggu bis di halte yang diantar seluruh keluarga, saat itulah berat untuk meninggalkan kampung halaman. Saya lihat kadang mata Ibu berkaca-kaca.

Kini saat saya dewasa justru kita lebih sering ke Probolinggo. Kalau waktu kecil paling liburan sekolah dan lebaran, sekarang bila ada hajatan kita juga kerap datang. Apalagi tidak repot naik kendaraan umum.

Terakhir saat mengantarkan Ibu, berdua di mobil saat pulang, saya bertanya apakah berat meninggalkan kota Probolinggo? Saya tahu dulu waktu saya kecil merasakan perasaan Ibu demikian.

“Tidak,” kata Ibu. “Sudah tidak ada perasaan itu lagi. Saya sudah lebih lama tinggal di Surabaya daripada di Probolinggo. Surabaya sudah kampung halaman saya. Bukan Probolinggo.”

Betul, pikir saya. Ibu di Probolinggo mulai lahir sampai menikah yang kemudian diajak Bapak ke Surabaya. Itu sekitar 20 tahun. Padahal di Surabaya sudah 2 kali lipatnya, 40 tahunan. Jadi Probolinggo bukan kampung halamannya lagi. Tapi Surabaya. Khususnya rumah yang ditempati Ibu sekarang. Karena kalau meninggalkan rumahnya sekarang (rumah kita saat masih belum menikah), meski di rumah anaknya, tidak krasan. Ingin kembali pulang ke rumahnya sendiri.

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan teman lama SMP. Dia tinggal di tanah Batavia ini sejak 1997. Saya tanya apakah punya property di Surabaya. Tidak, katanya. Berarti nggak berniat kembali ke Surabaya? Betul, jawabnya. Saya malah sekarang tidak semua cocok dengan menu masakah Jawa Timur. Hehehe, saya tertawa…

Jadi kampung halaman adalah tempat di mana menghabiskan sebagian besar usianya di sini. Apapun itu meski dia punya tanah kelahiran yang menyenangkan, akan kalah dengan tanah barunya bila dia tinggal lebih lama di tanah barunya tersebut.

Bagaimana menurut Anda, khususnya yang punya kampung halaman baru? Saya masih merasa Surabaya sebagai kampung halaman, meski saya sudah hampir sebulan di tanah Batavia ini. Karena saya lahir, sekolah TK, SD, SMP, SMA, S1 dan S2 di Surabaya. Menikah, punya anak dan rumah di Surabaya.

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: