Meraih Matahari di Puncak Penanggungan [4]: Jatuh Bangun Karena Sepatu Jogging

Home / Blog / Meraih Matahari di Puncak Penanggungan [4]: Jatuh Bangun Karena Sepatu Jogging

Berfoto dengan latar belakang gunung Welirang dan Arjuno.
Berfoto dengan latar belakang gunung Welirang dan Arjuno.
Karena dengan tipisnya sol sepatu ini, nyaris tidak ada guratannya, maka sepatu tidak bisa menapak dengan mantap. Ditambah jalan yang licin habis hujan, maka saya harus jatuh bangun mencapai puncak. Jatuh bangun dalam arti sebenarnya. Hehehe.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Kegiatan pendakian dimulai pukul 21.30. Terlambat dari jadwal. Karena mobil yang mengantarkan juga terlambat. Sehingga baru berangkat dari Sidoarjo seusai Maghrib. Ditambah kemacetan, tibanya di pos pemberangkatan juga terlambat.

Tapi saya pikir tidak ada bedanya terlambat beberapa jam. Toh juga sudah malam. Selisih waktu karena keterlambatan ini, juga sama-sama gelap. Hehehe.

Lho, kok pendakian saat gelap seperti ini?

Saya sebenarnya sering juga melakukan perjalanan di hutan dan gunung di malam hari dulu. Bahkan tanpa harus menggunakan senter. Tapi bukan sampai pendakian gunung sebenarnya.

Ada beberapa alasan melakukan pendakian malam. Pertama, dengan melakukan di saat malam maka tidak kepanasan. Kedua, tiba di sana bisa di tengah malam, sehingga bisa melakukan shalat malam (baca tulisan saya sebelumnya). Ketiga, bisa menunggu matahari terbit sehingga bisa melihat ‘sun rise’ di puncak gunung.

Memang gelap saat mendaki awalnya saya takutkan. Hehehe, mungkin takut ada penampakan-penampakan. Ini di gunung yang sunyi, bukan di mall. Jadi bisa saja ketemu makhluk-makhluk aneh. Tapi syukurlah sampai turun kembali ke pos pemberangkatan tidak ada kejadian-kejadian ganjil.

Ternyata yang harusnya saya takutkan adalah sol sepatu yang saya pakai tipis. Memang sejak awal saya mau berencana memakai sepatu PDL bekas latihan militer dulu (coba baca tulisan saya sebelumnya).

Karena dengan tipisnya sol sepatu ini, nyaris tidak ada guratannya, maka sepatu tidak bisa menapak dengan mantap. Ditambah jalan yang licin habis hujan, maka saya harus jatuh bangun mencapai puncak.

Jatuh bangun dalam arti sebenarnya. Hehehe. Karena sepatu ini, saya sudah jatuh entah berapa kali. Saya benar-benar menyesal tidak menggunakan sepatu PDL ini. Tapi saya tahu hal ini karena persiapan yang mepet. Saya masih harus bekerja di siang harinya. Apalagi pulangnya masih terlambat.

Saya memang memakai sepatu jogging saya. Ringan sih. Tapi harusnya ringan dan bisa menjejak. Sepatu ini memang cocok buat lari. Tapi tidak pas saat buat mendaki. Hehehe.

~~~
Pelajaran keempat:
Pakailah sepatu yang tepat saat mendaki. Hehehe. [Pare, 24/12/2012 petang. Ditulis menggunakan tablet]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang TI, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

2 Comments

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: