Rahasia Rejeki (4): Sebuah Rahasia Dari Hutang Pembantu Rumah Tangga

Home / Serial Tulisan / Rahasia Rezeki / Rahasia Rejeki (4): Sebuah Rahasia Dari Hutang Pembantu Rumah Tangga

Namun seminggu kemudian… ajaib. Ada sebuah rejeki datang. Sangat mudah. Seakan-akan datang sendiri. Saya tahu hal itu hubungannya dengan kapabilitas saya. Tapi biasanya cukup sulit dan berliku.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Pagi itu cerah. Saya melewatkannya dengan berolah raga jogging mengeliling kompleks perumahan. Ada perasaan segar sekaligus cerah setelah beraktivitas pagi itu.

Namun ketika tiba di rumah, ada hawa negatif yang muncul. Saya tahu ada yang tidak beres. Ternyata asisten (pembantu rumah tangga) mau pulang mendadak. Tentu saja istri panik. Karena istri bekerja, jadi perlu ada yang menjaga rumah karena Zelda masih TK.

Hmm… tenang, kata saya dalam hati. Sambil melepas sepatu, saya dengarkan semua cerita. Baik dari istri atau dari asisten.

Setelah saya sudah melepas semua perlengkapan olah raga saya, sepatu, topi, mp3 player dan wrist band, saya bersiap menyelesaikan permasalahan baru ini.

Saya duduk di sofa, saya panggil asisten saya duduk. Dia tetap ngotot duduk di bawah, meski saya dipersilahkan di atas. Ternyata dia berhutang pada asisten lain, karena membelikan pacarnya hp (ponsel).

Hmm,… dampak negatif dari teknologi. Dan efek negatif dari promosi gaya hidup lewat TV dan media massa lain. Meski tak mampu memaksakan diri untuk membeli hp dan pulsa. Ironisnya belanja pulsanya bisa lebih banyak daripada saya per bulannya.

Saya tanya berapa harga hpnya? Nggak terlalu mahal, karena bekas. Tapi cukup mahal kalau dibandingkan gajinya.

Tanpa berpikir panjang, saya katakan saya akan bayar. Asal asisten saya mau tetap bekerja di sini. Asisten saya sudah lama bekerja dengan saya. Sejak Zidan masih bayi 6 bulan sampai kelas 4 SD ini. jadi sudah hampir 10 tahun.

Meski saya lihat istri seperti keberatan dengan keputusan ini, tapi dia tak bisa apa-apa. Toh tak akan mempengaruhi anggaran rumah tangga. Itu saya ambilkan dari uang saya. Uang ‘budget kenakalan’ suami. Hehehe.

Tapi sebenarnya bagi saya juga berat. Karena saya sendiri tak pernah punya banyak tabungan banyak. Saya nekat saja. Karena saya pikir keputusan ini baik untuk semua: asisten, istri dan anak-anak yang sudah dekat dengannya.

Lalu setelah itu prahara tenang. Saya bayar sesuai janji asisten pada penagih. Saya bilang pada yang meminjami, lain kali kalau mau pinjam untuk memberitahu saya. Minimal nanti tidak kaget kalau ditagih. Hehehe.

Namun seminggu kemudian… ajaib. Ada sebuah rejeki datang. Sangat mudah. Seakan-akan datang sendiri. Saya tahu hal itu hubungannya dengan kapabilitas saya. Tapi biasanya untuk mendapatkan hal ini cukup sulit dan berliku. Ini begitu mudah. Rejeki ini nilainya hampir sama dengan hutang asisten saya. Lebih sedikit.

Dan keajaiban ini, tak berhenti sampai di situ. Seminggu kemudian juga datang rejeki lain. Bentuk rejekinya juga sama. Nilainya hampir sama juga.

Saya menggelengkan kepala. Dengan memberi sedekah, ternyata saya dibalas lumayan cepat. Bahkan dibayar dua kali lipatnya. Bahkan kemudian asisten membayar hutang itu ke saya, meski mencicil. Padahal niat saya menjadikan sedekah. Hilang-hilangan.

Sepertinya jalan rahasia rejeki lain adalah rajin bersedekah. Tentunya dengan niat untuk membantu. Bukan berderma dengan harapan dibalas Tuhan berlipat-lipat. Kalau niatnya ikhlas, justru akan datang rejeki itu. Namun kalau ada pamrih, malah harapan rejeki tak datang.

Jadi bersedekahlah dengan ikhlas. Rejeki akan datang dengan deras pada anda. [TSA, 15/10/2010 subuh]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

5 Comments

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: