Rahasia Rejeki (8): Pelajaran Dari Penjual Tahu Tek Dinoyo

Home / Serial Tulisan / Rahasia Rezeki / Rahasia Rejeki (8): Pelajaran Dari Penjual Tahu Tek Dinoyo

Entahlah apakah dia termasuk orang yang gampang puas? Atau termasuk orang yang terlalu bersyukur dengan rejeki yang ada? Atau termasuk orang yang tak mau mengambil tantangan untuk mendapat lebih besar kesempatan?

Oleh: Mochamad Yusuf*

Di dekat ujung jalan Dinoyo dekat jembatan BAT ada sebuah petak kecil. Di sampingnya ada tenda kecil. Tenda khas yang biasanya tempat berteduh polisi di pinggir jalan. Spanduk menutupi salah satu sisi dari tenda itu. Tampak jelas tulisan “Tahu teck teck Pak Ali”.

Spanduk yang sama juga menutupi petak di sampingnya. Sebuah ruang berukuran sekitar 2 x 3 meter. Betul tak terlalu luas. Dengan ukuran seluas itu, tentu terasa pengap di dalamnya. Karenanya banyak orang suka duduk di luar. Yakni di bawah tenda itu atau ‘sebuah meja’ di depan petak. Lebih segar.

Petak ini adalah warung tahu tek tek. Tahu tek tek adalah makanan khas Surabaya. Berisi tahu goreng yang diiris-iris lalu disiram dengan petis cair yang dibumbuhi bawang putih. Pelengkapnya adalah krupuk udang kecil dan kecambah muda. Diiris-iris dengan menggunakan gunting. Ketika memotong-motong itu, timbul suara gunting yang khas.

Nama tek-tek itu mungkin timbul saat mereka menjajakan dagangannya dengan memukul wajan. Tek tek, begitu bunyinya. Tahu tek tek mungkin mirip dengan makanan lain, seperti ketoprak di Jakarta. Tapi tetap beda.

Warung tahu tek tek pak Ali sangat terkenal. Kesohorannya menarik para selebritis untuk datang. Foto-foto artis yang sudah datang terpampang di dindingnya. Ada Katon Bagaskara dan istri, ada Daus OB, ada Cathy Saron dan masih banyak lagi. Di dinding itu juga tertempel artikel atau liputan warung ini oleh media massa. Juga cuplikan dari buku-buku yang memuat tentang warung ini.

Saya sudah mengenal warung ini sejak SMP. Selama itu sampai sekarang saya masih sering ke sana. Bahkan setelah menikah dan mempunyai 2 anak, sebulan sekali pasti mampir ke sana. Khususnya pulang kantor saat berbuka puasa.

Sejak pertama kali saya tahu sampai sekarang, tempatnya ya tetap seluas itu. Tidak berubah sama sekali. Melihat kesuksesan warung ini, saya yakin mereka mampu mengembangkan lebih luas bahkan membuka cabang di tempat lain.

Tapi kenapa mereka tak melakukannya? Sebuah pertanyaan besar di otak saya. Bukankah kalau lebih luas, cabang lebih banyak akan menghasilkan keuntungan lebih banyak? Rejeki lebih banyak?

Pertanyaan ini akhirnya bisa saya tanyakan kepada putranya pak Ali beberapa waktu lalu. Ini setelah saya dan putranya pak Ali sudah saling mengenal. Bahkan ketika saya sendiri datang ke sana (karena istri cuti melahirkan), putra pak Ali tanya di mana istri saya. Karena setiap ke sana, saya selalu bersama istri.

Sebenarnya tahun-tahun terakhir kalau ke sana sudah jarang pak Ali sendiri yang melayani. Yang sering adalah putranya. Pak Ali tetap datang. Cuma datangnya malam-malam, begitu penjelasan putranya.

“Mas, kok nggak mengembangkan warungnya sih? Kenapa nggak membuka cabang?“, tanya saya akhirnya. “Nggak, mas. Enak begini saja. Sudah cukup. Malah repot nanti kalo membuka cabang. Bahkan nanti malah timbul perselisihan dan lainnya. Toh begini, kita sudah cukup. Ayah dan ibu malah sudah bisa naik haji. Apalagi mas?” jawabnya sederhana.

“Kalau mengembangkan kan perlu modal. Takutnya kita memaksa sehingga harus berutang. Ya, kalau berhasil? Kalau tidak justru, yang asli ini bisa kena getahnya,” tambahnya.

Saya mencoba memancing jawaban lebih dalam, tapi jawabannya terasa sama nadanya. Akhirnya saya berhenti bertanya-tanya. Saya saling berpandangan dengan istri.

Entahlah apakah dia termasuk orang yang gampang puas? Atau termasuk orang yang terlalu bersyukur dengan rejeki yang ada? Atau termasuk orang yang tak mau mengambil tantangan untuk mendapat lebih besar kesempatan? Entahlah.

Yang jelas saya mendapat sebuah pelajaran tentang rejeki. [XL, 19/10/2010 siang]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

One Comment

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: